RPJM  DESA  RENCANA MEMBANGUN DESA

A. Sejarah Desa

Nama Desa Mpanau sebelumnya merupakan Desa Biromarti yang bermula terbentuknya dari sebuah perkampungan yang dihuni oleh sekelompok pemburu Babi Hutan dari wilayah Kerajaan Lando. Kegiatan perburuan tersebut sering terjadi di wilayah baru tersebut, membuat kelompok pemburu tersebut mendirikan sebuah tempat beristirahal berupa pondok. Dalam proses pembersihan untuk pembuatan pondok tersebut yang akan dijadikan sebagai permukiman, sekelompok pemburu tersebut memangkas alang-alang yang disebut ‘BIRO”, tanaman alang-alang yang sebagian besar daunnya sudah tua dan dalam bahasa lokal disebut “NAMARU”, kedua kosa kata dalam bahasa Daerah Kaili tersebut oleh mereka disatukan sehingga lahirlah nama “BIROMARU”.

Keberadaan BIROMARU sebelum menjadi sebuah Desa adalah merupakan Ibukota Kerajaan Sigi pada masa kepemimpinan Raja INTONDEL (PUE LANGA) sekitar Tahun 1918. Raja INTONDEI berperang melawan tentara Belanda yang kemudian ditangkap, dengan penangkapan tersebut kepemimpinan Raja INTONDEI dilanjutkan oleh Raja LAMAKARATE hingga sampai dengan kepemimpinan Raja LAMASAERA. Pada masa kepemimpinan Raja LAMASAERA sekitar tahun 1958, sistem pemerintahan berubah, dari sistem kerajaan menjadi sistem distrik sehingga terbentuklah Kecamatan Sigi Dolo, dan Biromaru sebagai ibukota kecamatan.

Seiring dengan perkembangan masyarakat, pada Tahun 1964, Kecamatan Sigi Biromaru dibentuk dengan ibukota Kecamatan di Desa Biromaru, akibat pembentukan kecamatan tersebut Desa Biromaru diubah menjadi Desa Mpanau yang diambil dari kata “MPANAU” yang berarti tempat turun, hal ini disesuaikan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku bahwa nama Desa yang menjadi Ibukota Kecamatan tidak diperbolehkan mempunyai nama yang sama dengan Nama Kecamatannya

Sejarah Kepemimpinan Desa Pada awal pemerintahannya Desa Mpanau dipimpin oleh Kepala Desa yang secara berurutan sebagai berikut:

1. Sasompole Ponulele : Periode Tahun 1952-1954

2. Hgsan Pagjori : Periode Tahun 1954-1958

3. Ismail Tampai : Periode Tahun 1958-1968

4. Abu Toara : Periode Tahun 1968-1975

5. Injoali : Periode Tahun 1973-1974

6. Abdullah Yogo : Periode Tahun 1974 1976

7. Bahtiar Tampai : Periode Tahun 1976-1984

8. Hasyim Alumbu : Periode Tahun 1984-1991 Periode Tahun 1991-2002

9. Amiludin Lamantjo : Periode Tahun 2002-2008)

10. Mohammad Sabir Latimpagi, SH : Periode Tahun 2008-2010

11. Hidayat Lembang, S.Sos : Periode Tahun 2010-2017

12. Almaun Larengi : Periode Tahun 2017-2018

13. Mohammad Sudirman Dwi Saputra, S. St : Periode Tahun 2019-2025

14. Mohammad Rifgal, SE : Periode Tahun 2018-2019

B. ASPEK GEORGRAFIS

1. Letak dan Luas Desa Mpanau Desa Mpanau berada dibagian Tengah diwilayah Kecamatan Sigi Biromaru

Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah. Secara geografis terletak di 119° 55 55.54″ BT dan terletak di 1° 42’48.17″ LS. Desa ini Memiliki Luas Wilayah 4,59 KM dan secara administratif Desa Mpanau berbatasan dengan:

sebelah Barat berbatasan Biromaru Kabupaten Sigi dengan Desa Kalukubula Kecamatan Sigi sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Petobo Kecamatan Palu Selatan Kota

Palu  Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Loru Kecamatan Sigi Biromaru Kabupaten Sigi Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Lohui Kecamatan Sigi BiromaruKabupaten Sigi

2. Kondisi Topografi Desa Mpanau

Kondisi topografi adalah kondisi permukaan atau keadaan relief Desa Mpanau, Desa Mpanau secara Administrasi pemerintah Desa terbagi dalam 4 (Empat) Dusun dengan kondisi topografi seluruh dusunnya berupa daerah dataran dan saling berdekatan.

Dilihat dari elevasi, wilayah Desa Mpanau 100% berada pada dataran antara 165 meter diatas permukaan laut (mdpl), Seluas Elevasi tersebut menggambarkan bahwa Desa Mpanau merupakan wilayah Dataran Rendah. Wilayah Desa Mpanau termasuk dalam Administrasi Kecamatan Sigi Biromaru yang merupakan ibu kota Kabupaten Sigi, sehingga memiliki orbitasi Jarak yang sangat dekat dari ibukota Kabupaten, untuk dapat mencapai Desa Mpanau dengan megunakan jalur sarana transportasi darat yang umum digunakan adalah kendaraan bermotor roda dua dan roda empat. Berikut data jarak tempuh Desa Mpanau ke wilayah strategis seperti ke Ibukota Kecamatan, Ibukota Kabupaten dan Ibukota Kecamatan lainnya

adalah sebagai berikut:

Jarak Tempuh dari Desa Mpanau Ke Wilayah Strategis Tahun 2019

 NO       KE IBUKOTA –KECAMATAN-DESA   JARAK                  TEMPUH WAKTU TEMPUH JALUR TRANSPORTASI
 1 Ibu kota provinsi sulawesi tengah9,7 km 20 menit darat 
 2 Ibu kota kabupaten sigi15 km 30 menit darat 
3 Kec.ibu kota kecamatan sigi biromaru200 mtr.  1 menit darat

3. Kondisi Hidrologi Desa Mpanau

Kondisi hidrologi merupakan keadaan pergerakan, distribusi dan kualitas air pada suatu wilayah. Desa Mpanau dialiri oleh 3 (tiga) aliran sungai yaitu sebelah utara petobo Sungai, dibagian tengah aliran Sungai buvu singi, buvu bonga, buvu Langgai dan sebelah selatan sungai berbatasan desa lolu. Aliran sungai merupakan salah satu potensi Sumber daya Alam dimiliki Desa Mpanau saat ini belum dimanfaatkan secara optimal, dan Hutan Desa merupakan potensi sumber daya alam yang tersedia untuk dapat dimanfaatkan dan juga harus dilindungi kelestariaannya, kerena didalamnya terdapat sejumlah Tititk sumber- sumber mata air bersih yang juga merupakan Potensi Sumber Daya Alam yang dapat dimanfaatkan guna memenuhi pemenuhan kebutuhan sarana prasarana dasar kehidupan masyarakat di Desa Mpanau secara berkelanjutan, Namun saat ini belum terkelola dengan baik untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.

 4.Kondisi Klimatologi Desa Mpanau

Kondisi klimatologi merupakan keadaan suatu wilayah dilihat dari perspektif kondisi kim atau musim yang terjadi setiap tahunnya. Desa Mpanau merupakan daerah tropis yang memiliki dua musim yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Musim kemarau terjadi pada kisaran bulan Juni- Oktober, sementara untuk musim penghujan terjadi pada kisaran bulan Desember- Mei setiap tahunnya. Jumlah curah hujan tahunan bervariasi antara 2.300 3000 mm, bulan terkering terjadi pada bulan April 4 dan bulan terbasah terjadi pada bulan Sepstuber. Sebagaimana wilayah Kecamatan Sigi Biromaru pada umumnya yang beriklim basah, begitu pula Desa Mpanau, sehingga wilayah desa ini memilia sumber daya air yang sangat potensial, akan tetapi perlu diwaspadai ketika terjadi jumlah curah hujan tinggi dapat berpotensi menimbulkan ancaman bencana alam berupa. banjir dan Longsor.

5. Kondisi Geologi Desa Mpanau

Secara geologis, Desa Mpanau tersusun atas beberapa jenis batuan, namun sampai dengan sekarang belum pernah dilakukan pendataan terkait kondisi geologis Desa Mpanau hal ini disebabkan oleh keterbatasan sumber daya desa yakni keterbatasan sumberdaya manusia yang memiliki kompetensi ilmu geologi dan keterbatasan dana untuk mengadakan tenaga pendata/peneliti geologi dari luar Desa Mpanau.

6. Kondisi Tanah Desa Mpanau

Kondisi yang sama terjadi pada pendataan kondisi tanah pada Desa Mpanau yang dilaksanakan oleh Tim Pendataan Desa, dimana hasil pendataan kondisi tanah pada wilayah Desa Mpanau tidak dapat dijelaskan secara komprehensif dikarenakan sumber daya manusia desa yang tidak memiliki pengetahuan dalam menganalisis struktur tanah desa. Kondisi tanah pada wilayah Desa Mpanau jika dijelaskan berdasarkan pengetahuan dasar yang dimiliki oleh Tim Pendataan Desa maka dapat disimpulkan bahwa struktur tanah desa berupa tanah subur dan gembur, hanya pada beberapa titik lokasi terdapat struktur tanah yang berbatuan kecil. Kondisi tanah pada Desa Mpanau dapat dimanfaatkan untuk usaha pertanian dan perkebunan. Berikut perkiraan data kesuburan tanah Desa Mpanau:

 NOTINGKAT KESUBURAN  LUAS (HA)
 1  2  3 4Sangat subur  Subur Sedang Tidak subur40(Ha)  50 (Ha) – –

7. Penggunaan Lahan Desa Mpanau

Desa Mpanau yang diperkirakan seluas 4,59 Km² dipergunakan oleh dengan berlandaskan prinsip kelestarian lingkungan hidup dan Budaya. Penggunaan lahan di Desa Mpanau antara lain untuk permukimani, perkantoran, usaha dan bisnis, pertanian/perkebunan dan peternakan. Adapun rincian lebih lanjut mengenai penggunaan lahan di Desa Mpanau tersaji pada tabel berikut:

masyarakat selama bertahun-tahun dan turun-temurun yang diolah sebagai sarana penunjang untuk kelangsungan hidup yang berkesinambungan

Tabel data penggunaan lahan desa

.

.

Dari tabel tersebut diatas, terlihat bahwa masih luasnya lahan yang terdapat di Desa Mpanau namun belum dimanfaatkan secara maksimal Selain itu terdapat lahan yang pada awalnya telah diolah masyarakat namun saat ini tidak aktif berproduksi. Hal-hal tersebut yang menjadi salah satu permasalahan yang dihadapi Desa Mpanau dan belum tertangani dengan baik.

C. ASPEK DEMOGRAFIS

1. Jumlah, Struktur dan Penyebaran Penduduk Desa Mpanau Desa Mpanau memiliki jumlah penduduk 5173 Jiwa berdasarkan hasil

pendataan Pemerintah Desa pada Tahun 2019. Struktur penduduk Desa Mpanau menurut jenis kelamin adalah Laki-laki sejumlah 2.603 Jiwa dan Perempuan sejumlah 2570 Orang dengan jumlah Kepala Keluarga sejumlah 1468. Adapun Struktur penduduk Desa Mpanau tersaji dalam tabel dibawah ini:

Data Struktur dan Penyebaran Penduduk Desa Mpanau Tahun 2019

 NO         DUSUN  LAKI-LAKI PEREMPUAN JUMLAH    KK    A-RT
1DUSUN 1587757134421115
2DUSUN 2853961181429422
3DUSU 3459623108217111
4DUSUN 49051167207233929
5JUMLAH280435086312101577

Berdasarkan tabel tersebut diatas, terlihat bahwa penyebaran penduduk terbesar Desa Mpanau berdomisili pada Dusun IV dengan jumlah sebesar 2.071 Orang, kemudian penduduk Desa Mpanau paling kecil berdomisili pada Dusun III dengan jumlah sebesar 1.082 Orang. Jumlah Kepala Keluarga sebesar 1.015 KK dan Desa Mpanau sampai saat ini masih memiliki A-RTM (Anggota Rumah Tangga Miskin) sebesar 77 A-RTM.

Usia Penduduk Desa Mpanau Tahun 2019

 NO KELOMPOK UMUR (TAHUN) LAKI-LAKI    (JIWA) PRESENTASE         (%)    PEREMPUAN           (JIWA)  PRESENTASE(%) JUMLA (JIWA)PRESETASE(%)
10-1765510,381,21719,281,87229,66
218-561,85229,341,69526,853,54756,19
3>652974,715969,4489314,15
4JUMLAH2,80444,423,50855,586,312100

Desa Mpanau memiliki luas wilayah 4,59 Km2 dengan jumlah penduduk sebesar 6.312 Orang sehingga kepadatan penduduk Desa Mpanau sebesar 1.375 Orang untuk setiap satuan luas 1 (satu) kilometer persegi, artinya untuk setiap lahan dengan luas 1 (satu) kilometer persegi dihuni oleh 1.375 orang. Kepadatan penduduk ini tentunya akan meningkat setiap tahunnya sesuai dengan perkembangan penduduk dan pembangunan Desa Mpanau. Pemerintah Desa bersama masyarakat perlu merencanakan pemberdayaan masyarakat dan pembangunan desa secara komprehensif dengan mengutamakan kelestarian lingkungan yang berkelanjutan.

2. ingkat kepadatan penduduk sebesar 0,069 Org/Km yang apabila dikonversi dalam satuan Hektar (Ha) sama dengan 6,940 Org/Km², hal ini menunjukan bahwa pada saat ini setiap individu tersedia ruang gerak sebesar 6 Ha, kepadatan penduduk ini tentunya akan meningkat setiap tahunnya sesuai dengan perkembangan penduduk dan pembangunan Desa Mpanau. Pemerintah Desa bersama masyarakat perlu merencanakan pemberdayaan masyarakat dan pembangunan desa secara komprehensif dengan mengutamakan kelestarian lingkungan yang berkelanjutan.

Kondisi Keagamaan dan Sosial Budaya Masyarakat Desa Mpanau Desa Mpanau yang mayoritas Penduduknya memeluk agama Islam, hal ini terlihat dari data pemerintah Desa Mpanau mengenai Agama yang secara rinci terdapat di tersaji pada diagram berikut:

Data Pemeluk Agama Penduduk Desa Mpanau Tahun 2019

TABEL KSONG

Besarnya penduduk yang memeluk agama Islam sangat mempengaruhi aktifitas sosial Budaya masyarakat Desa Mpanau, ini tergambar dari kebiasaan masyarakat secara turun-temurun dengan Tersedianya Sarana

Berdasarkan tabel tersebut diatas, terlihat bahwa hasil produksi dari beberapa sektor potensi Desa Mpanau belum terkelola dengan baik. Hal ini tentunya berpengaruh terhadap tingkat pendapatan serta kesejahteraan masyarakat desa, untuk itu perlu dipikirkan cara atau teknik pengelolaan, pemanfaatan dan pelestarian potensi potensi desa tersebut agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pendapatan asli Desa Mpanau.

Kondisi pekerjaan dan kesejahteraan masyarakat Desa Mpanau yang masih jauh dari kata sejahtera merupakan permasalahan yang kompleks dan perlu penanganan yang terencana, terukur dan efesien. Pemerintah Desa Mpanau bersama masyarakat perlu meningkatkan kompetensi dan menciptakan peluangnya untuk sejahtera dengan memanfaatkan potensi desa yang dimiliki dan penyelaran kebijakan pembangunan dengan Pemerintah Kabupaten, Provinsi dan Pusat.

C. ASPEK PELAYANAN UMUM

Sarana dan prasarana umum atau fasilitas publik merupakan modal yang sangat penting dimiliki dan dikelola oleh desa dengan prinsip kekeluargaan, kegotongroyongan, transparan, akuntabel, efisien dan lestari agar dapat

19. Peraturan Daerah Nomor Kabupaten Sigi Tahun 2016-2021 (Lembaran Daerah Kabupaten Sigi Tahun 2016 Nomor 1.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2016 (Lembaran Daerah Kabupaten Sigi Tahun 2015 Nomor 10).

21. Peraturan Bupati Sigi Nomor 7 Tahun 2015 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa (Berita Daerah Kabupaten Sig: Tahun 2015 Nomor 9),

22. Peraturan Bupati Sigi Nomor Tahun 2016 Tentang Pedoman Kewenangan Berdasarkan Hak Asal Usul Dan Kewenangan Lokal Berskala Desa ( Berita Daerah Kabupaten Sigi Tahun 2016 Nomor 23. Peraturan Bupati Sigi Nomor 10 Tahun 2016 Tentang Susunan

Organisasi Dan Tata Kerja Pemerintah Desa (Berita Daerah Kabupaten Sigi Tahun 2016 Nomor 1.3 HUBUNGAN ANTARA RPJM Desa DENGAN RPJM Daerah

Hubungan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa Mpanau dalam kurun waktu 2019-2025 dengan dokumen Perencanaan Pembangunan Daerah adalah bahwa Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa Mpanau dalam kurun waktu 2019 – 2025 disusun dengan mengacu kepada dokumen Perencanaan Pembangunan Daerah Tahun 2016-2021 dan Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sigi.

Dalam rangka perencanaan dan pelaksanaan pembangunan Desa Mpanau, pemerintah Desa didampingi oleh pemerintah daerah kabupaten yang secara teknis dilaksanakan oleh organisasi perangkat daerah kabupaten Sigi. Untuk mengkoordinasikan pembangunan Desa, kepala desa dapat didampingi oleh tenaga pendamping profesional, kader pemberdayaan masyarakat Desa, dan/atau pihak ketiga Camat atau sebutan lain akan melakukan koordinasi pendampingan di wilayahnya.

Perencanaan pembangunan Desa disusun secara berjangka meliputi: a. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM Desa) untuk jangka waktu 6 (enam) tahun; dan